Showing posts with label Moslem. Show all posts
Showing posts with label Moslem. Show all posts

Tuesday, 18 August 2015

Hikmah Tentang Al-Qur'an


Al_Qurthubi (wafat 671 H), menyebutkan 10 segi kemukjizatan Al-Qur'an. 10 Mukjizat itu adalah:

  1. Susunan redaksi yang begitu indah dan lain dari yang lain
  2. Gaya bahasa (uslub) yang lain dari yang lain
  3. Kefasihan (jazalah) yang mustahil berasal dari makhluk
  4. Pengaruhnya yang besar terhadap bahasa Arab
  5. Pemberitaan peristiwa-peristiwa yang telah berlalu sejak bermulanya dunia hingga diturunkannya Al-Qur'an
  6. Terbuktikannya janji-janji yang ada di dalamnya
  7. Pemberitaan peristiwa-peristiwa ghaib pada masa mendatang
  8. Pengetahuan yang terkandung di dalamnya
  9. Hikmah-hikmahnya yang matang
  10. Keselarasan kandungannya lahir dan batin

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah kemukjizatan Al-Qur'an, Ar-Rummani menyebutkan sedikitnya ada 7 kemukjizatan Al-Qur'an, yaitu:

  1. Menghindarkan penentangan terhadapnya dengan kuatnya motivasi dan kebutuhan terhadapnya
  2. Tantangannya kepada seluruh manusia
  3. Dipalingkannya pemikiran manusia untuk membuat yang semisal Al-Qur'an (sharfah)
  4. Retorika (balaghah)
  5. Berita-berita yang benar tentang masa depan
  6. Melampaui atau di luar kebiasaan
  7. Keunggulannya dari semua mukjizat yang lain.

Fungsi Al-Qur'an terlihat pada ayat-ayatnya dikuatkan dengan Al-Hadits yaitu:

  1. Pedoman hidup yang harus dipegang erat oleh kaum muslimin
  2. Petunjuk bagi umat manusia
  3. Pembeda antara yang benar dan yang salah
  4. Inspirator dan pemacu kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
  5. Penyembuh bagi orang-orang mukmin
  6. Pemberi peringatan bagi orang-orang yang lalai
  7. Bacaan utama yang bernilai ibadah

Mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan sunnah Rasulullah saw. Hal ini tergambar dari hadits berikut: Dari Abdullah bin Amru bin Ash, beliau berkata, “Wahai Rasulullah saw., berapa lama aku sebaiknya membaca Al-Qur’an?” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam satu bulan.” Aku berkata lagi, “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam dua puluh hari.” Aku berkata lagi, “Aku masih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima belas hari.” “Aku masih lebih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam sepuluh hari.” Aku menjawab, “Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima hari.” Aku menjawab, “Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah.” Namun beliau tidak memberikan izin bagiku. (HR. Tirmidzi)

Dari Anas, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Perumpamaan orang mukmin yang membaca  Al Qur’an seperti buah utrujah, rasanya enak dan baunya wangi, dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah kurma, rasanya enak namun tidak berbau, dan perumpaman orang durhaka yang membaca Al Qur’an seperti buah raihana, baunya wangi namun rasanya pahit, dan perumpamaan orang durhaka yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah hanzhalah, rasanya pahit dan tidak berbau dan perumpamaan Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau minimal dapat baunya, dan perumpamaan seseorang yang duduk dengan orang yang jelek (akhlaknya) bagaikan berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak. (HR. Sunan Abu Daud : 3831).

>>Baca Selengkapnya:....

Saturday, 15 August 2015

Memoriam: Islam di Kampungku

Ini tentang era 1975 – 2000, di mana aku terlahir dan dibesarkan hingga selesai sekolah, di sebuah desa kecil bernama Sumberrejo, tepatnya Kebayan 43A dan 43B Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung, dekat dengan Kota Metro, sekitar 10 km.  Mayoritas warga dua kebayan tahun 1990 yang berpenduduk sekitar 600 KK  adalah bertani  (80%), PNS/TNI (15%), dan wiraswasta (5%).  Pada tahun itu 99,99% warganya memeluk agama islam, sisanya 1 keluarga adalah nonmuslim, seorang pendatang berprofesi sebagai mantri kesehatan.

Di dua kebayan itu ada 1 Masjid dan 4 Mushola. Masjid menjadi pusat ibadah shalat Jumat dan Idul Fitri serta Idul Adha. Masjid juga menjadi pusat bagi anak-anak untuk belajar membaca Al-Qur’an melalui lembaga Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) pada sore hari sekitar pukul 16.00 – 17.30. Masjid juga menjadi pusat kegiatan remaja yang tergabung dalam Remaja Islam Masjid (RISMA). TPA dan RISMA adalah dua lembaga otonom yang dikelola oleh para remaja muslim usia 15 – 25 tahun. 

Mayoritas warga saat itu sangat sedikit yang paham agama islam. Tidak ada organisasi seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Jamaah Tabligh (Jahula), atau lainnya yang memiliki kepengurusan di kampungku itu. Simpatisan Muhammadiyah atau NU memang ada beberapa. Praktik ibadah keagamaan, seperti tata cara shalat Jumat, shalat tarawih, shalat subuh, pengurusan jenazah, dan lain-lain tampak sekali mengikuti siapa yang "mengimami" dengan tidak mempermasalahkan itu dari aliran mana atau tata cara kelompok mana.

____________________________________________
TATA CARA SHALAT JUM'AT (Waktu Itu)

Aku masih ingat, tata cara shalat jumat waktu itu. Sebelum khatib naik mimbar, maka ada salah satu jamaah yang memukul bedug dan kentongan beberapa kali, tidak ada pemutaran suara kaset orang mengaji di speaker, suasana di masjid sebelum khutbah sangat hening. Sebagian besar jamaah tampak mengantuk, sebagian yang lain ada yang tadarrus Al-Qur'an dengan lirih. Jamaah duduk bershaf di atas tikar, bagian depan (2 atau 3 baris) digelari kain putih memanjang untuk tempat sujud. Sungguh suasana yang nikmat. Saat waktu masuk dhuhur, selalu ada orang yang memukul bedug dan kentongan dengan irama tertentu sebagai tanda khotib sudah waktunya naik mimbar. Setelah khotib naik mimbar, ada anggota RISMA yang adzan. Khotib adalah warga dari kebayan 43A atau 43B sendiri. Mereka ada beberapa belas orang, termasuk RISMA yang dianggap mampu menjadi khotib. Ada jadwal khusus yang disusun oleh takmir masjid.

Setelah selesai khutbah pertama, maka khotib duduk, disambung dengan shalawat yang dibacakan oleh muadzin, "Allohumma sholli ala Muhammad, wa'ala ali Muhammad", begitulah lafadznya, kadang-kadang sebagian muadzin menambahkan kata "sayyidina" sebelum nama Bagindan Nabi Muhammad SAW disebut. Selesai muadzin membaca sholawat itu, kemudian Khotib naik mimbar lagi untuk khutbah kedua yang biasaya hanya berisi doa atau kesimpulan/penegasan khutbah pertama disambung doa. Setelah selesai khutbah kedua, maka dilakukan shlat Jumat 2 rakaat diimami oleh imam yang ditunjuk (sesuai jadwal). Hanya beberapa imam saja waktu itu, yang kuingat adalah Pak Imam Sujak , Pak Kaum Sutris, dan Mbah Yunani. Selesai shalat biasanya dzikir sendiri-sendiri secara sir (pelan-pelan), kadang imam mengajak membaca Al-Fatihah, kemudian imam mempimpin doa, selesai doa langsung bubar dan pulang ke rumah masing-masing.


____________________________________________
ZAKAT FITRAH (Waktu Itu)

Aku masih SMA kelas 3, jadi umurku sekitar 17 tahun, aku diberi tugas menjadi sekeretaris Badan Amil Zakat Infaq dan Sadaqoh (BAZIS). Waktu itu aku sebatas anggota RISMA. BAZIS di kampungku adalah badan ad-hock, artinya badan itu dibentuk pada saat tertentu layaknya panitia hajatan. BAZIS dibentuk setiap tahun tetapi tidak bekerja secara permanen setahun penuh atau lebih, melaksanakan tugas hanya beberapa hari untuk menerima zakat fitrah, zakat mal, infaq, dan shodaqoh dari umat muslim yang biasanya dilaksanakan menjelang hari raya idul fitri.

Tugas sekretaris memang tidak terlalu berat, hanya mendata/mencatat warga yang membayar dan nominal atau berat berasnya, merekapitulasi, kemudian membagi ke dalam pos-pos yang disepakati panitia.

Belum selesai.


>>Baca Selengkapnya:....

Wednesday, 24 June 2015

Apakah Shalat Wajib Persis Menghadap Kakbah?


Tidak Wajib Menghadap ke Ka’bah?
Apakah kita harus wajib menghadap persis ke arah ka’bah?. Karena saat ini sedang ramai kalibrasi arah kiblat. Nuwun..
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Menghadap kiblat termasuk salah satu syarat sah shalat. Kecuali ketika shalat khouf (shalat ketika perang), mereka yang tidak mampu menghadap kiblat karena udzur, atau ketika shalat di atas kendaraan.
Allah berfirman,
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan menghadapkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram… (QS. al-Baqarah: 144).
Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari cara shalat yang benar, beliau mengatakan,
إِذا قمتَ إِلى الصلاة فأسبغ الوضوء، ثمَّ استقبِل القبلة فكبِّر
Jika kamu hendak melakukan shalat, sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke arah kiblat dan lakukan takbiratul ihram. (HR. Bukhari 6667 & Muslim 912).
Kemudian, ulama sepakat bahwa orang yang bisa melihat Ka’bah atau melihat masjidil haram, dia harus menghadap persis ke arah ka’bah.
Ibnu Abbas menceritakan,
Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam Ka’bah, beliau berdoa di sudut-sudut Ka’bah. Beliau tidak shalat, hingga keluar dari Ka’bah. Setelah beliau keluar, beliau shalat 2 rakaat. Lalu bersabda,
هَذِهِ الْقِبْلَةُ
Inilah kiblat. (HR. Bukhari 398 & Muslim 3301)
Dalam al-Hawi fi Tafsir al-Quran dinyatakan,
أمّا إذا كان مشاهدًا لها فقد أجمعوا أنه لا يجزيه إلا إصابة عين الكعبة
Jika orang itu bisa melihat Ka’bah, mereka sepakat bahwa shalatnya tidak sah kecuali dengan menghadap persis ke arah Ka’bah.
Jauh dari Ka’bah, Haruskah Menghadap Tepat ke Arah Ka’bah?
Polemik kiblat mulai diangkat, sejalan dengan proyek kementrian agama dalam meluruskan arah kiblat di berbagai masjid. Berbondong-bondong beberapa masjid di sekitar kita, melakukan kallibrasi arah kiblat. Dan rata-rata, arah bangunan tidak searah dengan kiblat pasca-kalibrasi.
Akibatnya, pola shaf masjid menjadi korbannya. Semua serba dimiringkan, yang sedikit mengganggu pemandangan dalam masjid.
Agar ketika beramal kita memiliki keyakinan dan pedoman, berikut kita akan simak penjelasan para ulama tentang arah kiblat, terutama bagi mereka yang jauh dari Ka’bah. Apakah harus tepat ke arah Ka’bah?
Sebagian ulama dari berpendapat bahwa semua orang yang shalat, wajib menghadap tepat ke arah Ka’bah. Namun pendapat ini dinilai sangat lemah oleh ulama lainnya. Bahkan Ibnul Arabi menyatakan, bahwa itu adalah kewajiban yang tidak mungkin bisa dilaksanakan (kecuali oleh sebagian kecil orang).
Ketika menyebutkan pendapat ini, al-Qurthubi menukil keterangan Ibnul Arabi,
قال ابن العربي : وهو ضعيف ; لأنه تكليف لما لا يصل إليه
Ibnul Arabi menyatakan, “Ini pendapat lemah. Karena di sana ada unsur taklif (membebani) untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin diwujudkan.” (Tafsir al-Qurthubi, 2/160)
Sementara itu, mayoritas ulama mengatakan,
Kewajiban mereka yang jauh dari Ka’bah adalah menghadap ke arah di mana Ka’bah berada. Dan itulah arti perintah menghadap kiblat bagi orang yang jauh dari Mekah.
Ini merupakan jumhur ulama dari madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Hambali, dan sebagian Syafiiyah.
Bahkan al-Qurthubi menyatakan bahwa semua ulama sepakat, bagi orang yang jauh dari Mekah, dia tidak wajib menghadap persis ke arah Ka’bah. Dalam tafsirnya, al-Qurthubi menyatakan,
وأجمعوا على أن كل من غاب عنها أن يستقبل ناحيتها وشطرها وتلقاءها
Ulama sepakat bahwa orang yang jauh dari Ka’bah, dia boleh menghadap ke arah di mana Ka’bah berada. (Tafsir al-Qurthubi, 2/160).
Sebagai contoh warga Indonesia. Kiblat berada di arah barat. Sehingga menurut mayoritas ulama, masyarakat Indonesia sudah disebut menghadap kiblat, ketika mereka menghadap ke arah barat.
Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini,
Pertama, firman Allah tentang perintah menghadap kiblat,
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
“Hadapkanlah wajahmu ke arah (Syatral) Masjidil Haram…”
Keterangan:
معنى شَطره، أي: نَحوَه وتلقاءَه
Makna kata ‘Syathrahu’ adalah ke arah di mana masjidil haram berada. (Majmu’ Fatawa, 22/207).
Ayat itu tidak menyatakan, “Hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram…”, tapi “Hadapkanlah wajahmu ke arah (Syatral) Masjidil Haram…”. Adanya tambahan kata Syatrah menunjukkan bahwa dalam menghadap kiblat tidak harus tepat ke arah Ka’bah.
Kedua, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan arah kiblat
Beliau berposisi di Madinah, sejauh 490 km di sebelah utama Mekah. Untuk perjalanan sepekan dengan onta di masa itu. Sehingga kiblat masjid nabawi menghadap ke arah selatan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammenjelaskan arah kiblat dengan sangat mudah,
مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ
“Antara timur dan barat, itulah kiblat.” (HR. Nasai 2255, Turmudzi 342, Daruquthni 1071, dan yang lainnya).
Al-Mubarokfuri menyebutkan keterangan as-Suyuthi,
قال السيوطي ليس هذا عاما في سائر البلاد وإنما هو بالنسبة إلى المدينة الشريفة ونحوها
As-Suyuthi mengatakan, “Hadis ini tidak bersifat umum untuk semua negeri. Namun aturan ini berlaku untuk Madinah kota mulia atau yang posisinya seperti Madinah.” (Tuhfatul Ahwadzi, Syarah Sunan Turmudzi, 2/266).
Bagi penduduk Madinah, kiblat mereka menghadap ke selatan. Selama mereka terhitung menghadap ke selatan, mereka telah menghadap kiblat, sekalipun tidak tepat ke arah Ka’bah.
Ketiga, kejadian perubahan Ka’bah di Masjid Quba
Arah kiblat pernah berpindah dua kali. Dulu, di awal-awal kaum muslimin hijrah di Madinah, mereka shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Enam bulan berikutnya, Allah perintahkan agar kiblat mereka menuju ke arah Mekah.
Sehingga dulu para sahabat melakukan shalat menghadap ke utara (ke Baitul Maqdis), kemudian pindah menghadap ke arah selatan (ke Mekah).
Suatu ketika, kaum muslimin di masjid Quba shalat subuh dengan menghadap Baitul Maqdis (utara). Tiba-tiba datang utusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka shalat. Utusan ini mengatakan,
أَلاَ إِنَّ الْقِبْلَةَ قَدْ حُوِّلَتْ إِلَى الْكَعْبَةِ
“Sesungguhnya kiblat telah dipindah.”
Akhirnya, para sahabat yang sedang melaksanakan shalat subuh berjamaah memutar arah tubuhnya. Imam berputar, yang awalnya menghadap ke utara menjadi shalat jamaah menghadap ke selatan. Ini semua mereka lakukan tanpa membatalkan shalat. (HR. Muslim 1208).
Anda bisa pastikan, mereka ketika berputar, tidak akan 100% tepat ke arah Ka’bah. Itu sesuatu yang sangat mustahil. Namun shalat mereka tetap sah, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh mereka untuk mengulangi shalatnya.
Keempat, islam adalah agama yang sangat mudah, tidak merepotkan penganutnya.
Ada banyak ayat yang menegaskan bahwa islam itu mudah, tidak menyulitkan. Diantaranya,
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (al-Hajj: 78).
Allah juga berfirman,
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan Allah tidak ingin menyusahkan kalian. (al-Baqarah: 185).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ
“Agama itu mudah. Tidak ada seorang-pun yang membuat sulit agama, kecuali dia akan sangat kerepotan.” (HR. Bukhari 39 & an-Nasai 5051).
Ketika setiap orang yang hendak shalat harus melakukan kalibrasi (penyesuaian) arah kiblat, tentu saja ini akan sangat merepotkan dan ini bertentang dengan prinsip syariat yang memberikan kemudahan.
Mungkin kita bisa melakukannya ketika di masjid yang arah kiblatnya telah disesuaikan. Masalahnya, kita mengerjakan shalat tidak hanya di masjid. Bagaimana jika shalat itu di rumah, atau di tempat yang arah kiblatnya belum disesuaikan?
Bukankah Sudah ada Kompas?
Ada beberapa jawaban untuk menjawab pertanyaan ini,
Pertama, Tidak mungkin setiap shalat, kita harus membawa kompas. Dan ini akan sangat merepotkan. Dan ini bertentangan dengan prinsip syariat islam yang memberi kemudahan.
Kedua, di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabiin, para ulama imam madzhab belum ada kompas. Kompas baru ditemukan abad 9 M oleh orang cina. Mereka menggunakan jarum yang mengambang, sebagaimana diuraikan dalam buku Loven Heng. Pelaut Persia memperoleh kompas dari orang Cina dan kemudian memperdagangkannya.
Sementara pelaksanaan syariat yang paling ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan keterbatasan alat navigasi ketika itu, sangat memungkinkan mereka shalat tidak tepat menghadap kiblat. Apakah berarti shalat mereka tidak sah??
Ketiga, ketika Allah menurunkan al-Quran di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dia tahu bahwa di masa depan ada alat navigasi yang canggih. Namun Allah tidak memerintahkan kita untuk menghadap tepat ke arah kiblat.
Yang Allah perintahkan adalah menghadap ke arah di mana kiblat berada (Syathral masjidil haram).
Keempat, sekalipun sudah di kalibrasi, orang yang shalat tidak akan lepas dari faktor kesalahan dan penyimpangan. Meskipun hanya 1o atau 2o derajat. Sementara jarak Indonesia dengan Mekah, lebih dari 7900 km. Hanya dengan menyimpang 1 derajat, anda telah menyimpang sejauh 544 km.
Sementara kita tidak mungkin bisa tepat 100% ke arah Ka’bah.
Semua Mengakui Tidak Mungkin Bisa Tepat
Sejatinya semua ulama sepakat bahwa tidak mungkin seseorang bisa menghadap kiblat tepat ke arah Ka’bah. Sampaipun mereka yang berpendapat disyariatkan untuk tepat menghadap Ka’bah, maksud mereka adalah secara niat.
Dalam al-Hawi fi Tafsir al-Quran dinyatakan,
وكأنّ الفريق الأول حين أحسوا صعوبة مذهبهم، خصوصًا من غير المشاهد لها قالوا: إن فرض المشاهد للكعبة إصابةُ عينها حسًّا، وفرض الغائب عنها إصابة عينها قصدًا
Para ulama yang berpendapat harus tepat ke arah Ka’bah, mereka merasa kesulitan untuk menerapkan pendapatnya. Terutama bagi mereka yang jauh dari Ka’bah. Mereka mengatakan,
‘Wajib bagi yang melihat Ka’bah untuk tepat menghadap Ka’bah. Sementara bagi yang tidak melihat Ka’bah harus berniat tepat ke arah Ka’bah.’
Kemudian dikomentari penulis al-Hawi fi Tafsir,
وبعد هذا يكاد يكون الخلاف بين الفريقين شكليًا، لأنهم صرحوا بأنّ غير المشاهد لها يكفي أن يعتقد أنه متوجه إلى عين الكعبة
Dengan ini kita bisa simpulkan bahwa perbedaan pendapat kedua madzhab hanya perbedaan luar (tetapi hakekatnya sama). Karena mereka menegaskan bahwa mereka yang tidak melihat Ka’bah cukup meyakini bahwa dirinya telah menghadap tepat ke arah Ka’bah. (al-Hawi fi tafsir al-Quran al-Karim).
Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/wajib-menghadap-ke-kabah/ diakses hari Rabu, 24 Juni 2015
Tanpa editing.
>>Baca Selengkapnya:....

Thursday, 12 March 2015

Arnoud van Doorn


Arnoud van Doorn adalah seorang mantan politikus sayap kanan Belanda terkemuka yang berasal dari Partai Kebebasan (PVV) milik Geert Wilders.[1] Van Doorn dikenal dunia ketika menjadi produser dan pembuat film anti-Islam berjudul Fitna yang kontroversial bersama sahabat dekatnya Geert Wilders, sebelum akhirnya memutuskan menjadi seorang muslim beberapa tahun kemudian setelah lebih mendalami ajaran Islam.[2][3] Kini ia menjabat sebagai anggota Dewan Kota Den Haag dari partai PvdE, Presiden Yayasan Dakwah Eropa, Duta Besar dari Hubungan Pesohor untuk Asosiasi Dawah Kanada di Eropa.
Arnoud membuat kejutan bagi masyarakat dan Geert Wilders secara khusus ketika mengumumkan keislamannya pada tahun 2013. Hal ini dikarenakan ia adalah wakil ketua dalam partai anti-Islam Belanda, juga andilnya dalam produksi film Fitna yang memicu kontroversi di berbagai belahan dunia. Dalam laman twitternya ia menyatakannya sebagai memulai langkah baru.[4] Segera ia melakukan ibadah Haji ke Arab Saudi dan mengunjungi Masjid Nabi untuk menyampaikan permohonan maaf dan penyesalannya dihadapan para ulama disana atas keterlibatannya dalam usaha menyebarkan kebencian atas Islam.[5] Dia mengatakan bahwa reaksi umat muslim di seluruh dunia terhadap filmnya, membuatnya tertarik belajar lebih dalam yang berujung dengan keputusannya memeluk agama Islam.[6] Ia menyatakan, “Sampai sekarang saya masih sangat menyesal karena telah mendistribusikan film (Fitna) itu. Saya merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki kesalahan yang telah saya lakukan di masa lalu." Langkahnya ini diikuti putra tertuanya yang memeluk Islam pada 2014 setelah melihat perubahan ayahnya semenjak memeluk Islam.[7]

(Ku-copas dari https://www.google.com/webhp?sourceid=chrome-instant&ion=1&espv=2&ie=UTF-8#newwindow=1&q=Arnoud+van+Doorn hari Kamis, 12 Maret 2015 pukul 9:25 WIB)
>>Baca Selengkapnya:....

Tuesday, 2 December 2014

10 Keutamaan Menuntut Ilmu


Mencari ilmu merupakan kewajiban setiap manusia. Tanpa ilmu kita tidak bisa menjalani hidup ini dengan baik. Orang yang tidak memiliki ilmu biasanya akan di manfaatkan oleh orang lain. Bahkan, orang yang tak berilmu itu akan dibodohi oleh orang lain. Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran carilah ilmu demi kelangsungan hidup yang lebih baik.

Ilmu memiliki banyak keutamaan, 10 diantaranya adalah:

1. Ilmu adalah amalan yang tidak terputus pahalanya sebagaimana dalam hadits: ”jika manusia meninggal maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shodaqoh jariahnya, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya,” (HR Bukhori dan Muslim)

2. Menjadi saksi terhadap kebenaran sebagaimana dalam firman Allah SWT: (Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali dia. Yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu,). (QS. Ali Imran 18)

3. Allah memerintahkan kepada nabinya Muhammad SAW untuk meminta ditambahkan ilmu sebagaimana dalam firman Allah, (… dan katakanlah: Ya Rabb ku, tambahkanlah kepadaku ilmu) (QS.Thahaa 114)

4. Allah mengangkat derajat orang yang berilmu. Sebagaimana firman Allah, (… Allah mengangkat orang beriman dan memiliki ilmu diantara kalian beberapa derajat dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan). (QS. Mujadilah 11)

5. Orang berilmu adalah orang yang takut Allah SWT, sebagaimana dalam firmannya: (…. sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hambanya hanyalah orang-orangyang berilmu). (QS. Fathir 25).

6. Ilmu adalah anugerah Allah yang sangat besar, sebagaimana firman-Nya: (Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Quran dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)). ( QS. Al-Baqarah 269)

7. Ilmu merupakan tanda kebaikan Allah kepada seseorang ”Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya, maka Allah akan membuat dia paham dalam agama,” (HR Bukhari dan Muslim).

8. Menuntut ilmu merupakan jalan menuju surga, ”Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surge,” (HR Muslim)

9. Diperbolehkannya ”hasad” kepada ahli ilmu,”Tidak hasad kecuali dalam dua hal, yaitu terhadap orang yang Allah beri harta dan ia menggunakannya dalam kebenaran dan orang yang Allah beri hikmah lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya,” (HR Bukhari )

10. Malaikat akan membentangkan sayap terhadap penuntut ilmu,”Sesungguhnya para malaikat benar-benar membentangkan sayapnya karena ridho atas apa yang dicarinya,” (HR. Ahmad dan Ibnu majah).

Sumber: http://www.islampos.com/
>>Baca Selengkapnya:....

Friday, 14 November 2014

Amalan Ringan Pembuka Jalan Menuju Surga


Allah dan Rasul-Nya banyak menyebutkan ganjaran surga dan mengancam dengan adzab neraka untuk memotivasi umat-Nya untuk banyak beramal shalih dan menjauhi segala larangan-Nya. Di samping itu Allah pun telah mengabarkan sifat-sifat surga dan neraka untuk lebih meningkatkan keinginan manusia untuk meraih surga dan menjauhi neraka.
Di antara kenikmatan surga, Allah berfirman dalam sebagian ayat-ayat-Nya,
عَلَى سُرُرٍ مَوْضُونَةٍ – مُتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ – يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ – بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ – لا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلا يُنْزِفُونَ – وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ – وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ – وَحُورٌ عِينٌ – كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ
“Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS al-Waqi’ah: 15-23)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Surga itu disediakan bagi orang-orang sholih, kenikmatan di dalamnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pula pernah terlintas dalam hati.’ Maka bacalah jika kalian menghendaki firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.’” (QS. As Sajdah [32] : 17) (HR. Bukhari & Muslim)
Maka membayangkan seberapa besar kenikmatan surga – dan sesungguhnya lebih indah dari yang bisa kita bayangkan – tentu menjadi motivasi kuat bagi orang yang beriman untuk meraihnya. Dan ini adalah bagian dari keimanan terhadap hari akhir dan iman kepada Allah Ta’ala.
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al-Wabil penulis kitab Asyratus Sa’ah (Tanda-tanda Hari Kiamat) berkata, [“Sesungguhnya percaya kepada Allah, hari akhir, pahala serta siksaan memberi arah yang nyata terhadap perilaku manusia untuk berbuat kebaikan. Tidak ada undang-undang ciptaan manusia yang mampu menjadikan perilaku manusia tetap tegak dan lurus seperti beriman kepada hari akhir. Oleh karena itu, dalam masalah ini akan ada perbedaan perilaku antara (orang yang tak beriman kepada Allah dan hari akhir) dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta dia mengetahui bahwa dunia adalah tempat simpanan akhir sedang amal shalih adalah bekal untuk akhirat, sebagaimana firman Allah,
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa …” (QS al-Baqarah: 197)
Dan sebagaimana komentar sahabat Umair Ibnu Hamam, “Menuju kepada Allah tak ada bekal lain kecuali takwa, amal akhirat dan sabar karena Allah dalam perjuangan. Dan semua bekal akan habis kecuali takwa, berbuat baik dan mencari petunjuk.”
Nampak perbedaan antara perilaku orang beriman dengan yang tidak beriman kepada Allah, hari akhir, pahala dan siksaan. Maka bagi orang yang percaya hari pembalasan dia akan berbuat dengan melihat kepada timbangan langit, bukan timbangan bumi. Dan dia akan melihat hisab akhirat, bukan hisab dunia. Dia akan mempunyai perilaku tersendiri dalam kehidupan. Kita akan melihatnya istiqamah dan dalam berpikir, iman, tabah dalam kesulitan, sabar atas bencana demi mencari pahala, dan dia mengerti bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik dan lebih kekal.”]
Jalan menuju surga memang dipenuhi onak dan duri. Akan tetapi sesungguhnya ada banyak amalan-amalan yang mudah dilakukan namun Allah membalasnya dengan ganjaran yang sangat besar. Berikut ini disajikan beberapa amalan yang insya Allah ringan diamalkan namun bisa membawa pelakunya ke surga.

1. Berdzikir Kepada Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
“Ada dua kalimat yang ringan bagi lisan, berat dalam mizan (timbangan amal) dan dicintai ar-Rahmaan: ‘Subhanallahu wa bihamdih’ (Maha Suci Allah dan dengan pujian-Nya kami memuji) ‘Subhanallah al-Azhiim’ (Maha Suci Allah Dzat Yang Maha Agung).” (HR Bukhari dan Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
لَأَنْ أَقُوْلَ: (سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر) أَحَبُّ إِلَيَّ مِمّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Saya membaca: ‘Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar’, sungguh aku lebih cintai daripada dunia dan seisinya.” (HR Muslim no 2695 dan at-Tirmidzi)
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang dapat menyelamatkannya dari adzab Allah melainkan dzikir kepada Allah.” (HR ath-Thabrani dengan sanad yang hasan dan al-Allamah Ibnu Baz menjadikannya hujjah dalam kitab Tuhfah al-Akhyaar)

2. Meridhai Allah, Islam dan Rasulullah

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي ثَلَاثَ مَرَّاتٍ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seorang hamba muslim mengucapkan pada saat dia memasuki waktu pagi dan memasuki waktu petang: ‘radhiitu billahi rabba, wa bil islaami diina wa bi muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam nabiya (aku ridha Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi-ku)’ sebanyak tiga kali, melainkan merupakan hak bagi Allah untuk meridhainya pada hari kiamat kelak.” (HR Ahmad dan dihasankan oleh al-Allamah Ibnu Baz dalam kitab Tuhfah al-Akhyaar)

3. Menuntut Ilmu Syar’i

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim no 2699)

4. Menahan Marah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَسْتَطِيعُ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي اَيِّ الْحُورِ شَاءَ
“Barangsiapa yang menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskannya, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan para makhluk sampai Allah memilihkan untuknya bidadari-bidadari yang dia suka.” (Dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi dan disepakati oleh Syaikh al-Albani)

5. Membaca Ayat Kursi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِي دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ لَمْ يَمْنَعُهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةَ إِلاَّ أَنْ يَمُوْتَ
“Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat, maka tidak ada yang dapat menghalanginya untuk masuk surga kecuali jika dia mati.” (HR an-Nasaa’i dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)
Maksudnya adalah jika dia mati, dia akan masuk surga dengan rahmat dan karunia Allah ‘Azza wa Jalla.

6. Menyingkirkan Gangguan di Jalan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِي الجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهاَ مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ
“Sungguh aku telah melihat seorang lelaki mondar-mandir di dalam surga dikarenakan sebuah pohon yang dia tebang dari tengah jalan yang selalu mengganggu manusia” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَي ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ وَاللهِ لأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنْ المُسْلِمِينَ لَا يُؤذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الجَنَّةَ
“Ada seorang lelaki berjalan melewati ranting pohon yang ada di tengah jalan, lalu dia berkata, ‘Demi Allah, sungguh aku akan singkirkan ranting ini dari kaum muslimin agar tidak menganggu mereka.’ Maka dia pun dimasukkan ke dalam surga.” (HR Muslim)

7. Membela Kehormatan Saudaranya di Saat Ketidakhadirannya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَنْ رَدَّ عَن عِرْضِ أَخِيهِ رَدَّ اللهُ عَن وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ القِيَامَةِ
“Barangsiapa membela harga diri saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan memalingkan wajahnya dari api neraka.” (Dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَنْ وَقَاهُ اللهُ شَرَّ مَا بَيْنَ لَحيَيْهِ وَ شَرَّ مَا بَيْنَ رِجْلَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ
“Barangsiapa yang Allah lindungi dari keburukan apa yang ada di antara kedua rahangnya (yaitu mulut) dan keburukan yang ada di antara dua pahanya (yaitu kemaluannya), niscaya dia akan masuk surga.” (Dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi dan disepakati oleh Syaikh al-Albani)

8. Menjauhi Debat Kusir Walaupun Benar

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam,
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” (HR Abu Dawud dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

9. Berwudhu’ Lalu Shalat Dua Raka’at

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,”Tidaklah seorang muslim berwudhu’ lalu dia baguskan wudhu’nya, kemudian dia berdiri shalat dua raka’at dengan menghadapkan hatinya dan wajahnya pada kedua raka’at itu, melainkan surga wajib baginya.” (HR Muslim)

10. Pergi Shalat ke Masjid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan untuk menuju masjid, mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam juga bersabda, “Barangsiapa yang pergi ke masjid atau pulang dari masjid, niscaya Allah akan persiapkan baginya nuzul di dalam surga setiap kali dia pergi dan pulang.” (HR Bukhari dan Muslim)
Imam an-Nawawi berkata, “Nuzul adalah makanan pokok, rizki dan makanan yang dipersiapkan untuk tamu.”

11. (Bonus tambahan) Shalat Sunnah 2 Raka’at Setelah Wudhu

Amalan inilah yang dirutinkan oleh sahabat Bilal yang telah menjadikannya sebagai penghuni surga dengan kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.
يَا بِلاََلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دُفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطَّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّي
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal radhiyallahu anhu setelah shalat fajar, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalanmu dalam Islam yang paling engkau harapkan. Karena sesungguhnya aku mendengar suara terompahmu di hadapanku dalam surga.” Bilal berkata, ”Tidaklah aku mengamalkan suatu amalan yang lebih aku harapkan melainkan setiap kali aku bersuci pada malam atau siang hari aku selalu mengerjakan shalat yang bisa aku lakukan.” (HR Al-Bukhari no 1149 dan Muslim no 2458)

Sumber:
https://alhilyahblog.wordpress.com/2012/02/27/10-amalan-ringan-pembuka-jalan-menuju-surga/
>>Baca Selengkapnya:....

Sunday, 20 April 2014

Memanfaatkan Smartphone Untuk Kebaikan


Kemajuan teknologi bidang informasi dan telekomunikasi menyajikan begitu banyak pilihan. Lebih khusus dalam hal kehadiran smartphone yang membanjiri pasar Indonesia, mulai dari produk mahal sampai murah, mulai dari fitur ala kadarnya sampai yang sangat lengkap. Belum lagi aplikasi gratis yang ditawarkan oleh penyedia jasa layanan yang bertaburan di dunia maya.

Fokus artikel singkat ini adalah bagaimana agar kita bijak dan positif dalam memanfaatkan alat yang ada dalam genggaman kita.

Salah satu fitur yang pasti ada dalam smartphone adalah pemutar suara (bisa mp3, mp4, atau lainnya). Beberapa tips agar smartphone kita bermanfaat di antaranya adalah kita isi dengan konten yang bermanfaat untuk memupuk keimanan kita dan melembutkan hati kita. Contoh yang bermanfaat adalah bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, hadits Nabi Muhammad SAW, dan ceramah-ceramah dari para ustadz/dai.

Berikut ini saya berbagi beberapa di antaranya.
1. Download /114_Surah_AnNaas_Ahmed_bin_Ali_Al_Ajmy.mp3.html
2. Download/AYAT-KURSI---Muhammad-Taha-Al-Junayd.mp3.html
>>Baca Selengkapnya:....

"How come you Muslims have four wives?"



There are many questions coming to our sisters in Islam asking them about oppression on women, hijab, multiple wives, equal rights and so much more. We have a website with a lot of information, but knowing how to present the answer is very important too.

Here is an example of how you might answer the question about multiple wives, but only one husband:

"Islam is all about RIGHTS - Everyone has their rights in Islam, even children have rights"

"If a woman marries more than one husband at a time, how would the child get their rights of inheritence? What about their rights amongst other children from different fathers - but the same mother?"

"If a woman can choose from any man, even the ones who are married, but a man can only choose from the unmarried women - who has the most choices?"

But first, before talking about Islam, Muslims, Allah, Quran or even their question - here are a few steps we have found to be very effective in helping see the true picture of Islam - and in some cases - even become MUSLIMS THEMSELVES...

1. First, we begin by saying

“Thank you . . for taking the time to ask me and for  sharing your ideas and concerns. It makes us happy to receive mail from all around the world and to be able to communicate with so many Muslims and non-Muslims about my favorite subject: Misconceptions About Islam and the Muslims.

It is our pleasure to hear you are interested to know more about Islam and the many benefits Islam offers to all humans throughout all times. This is important to us and we are always thankful for a chance to share Islam with everyone. . “

Now, just take it slow and easy . . .

2. Say this:
First of all, let us do some basic research here:

If you have a Quran, turn to chapter four (4) and read it all the way through to help you better understand what Islam is really saying about humans in general and women in particular.



Now, ask them to reflect on what is being said . . .

Then think about the verses. Doesn’t this make sense to you: Only God Knows all about what He has created? And also, doesn’t make sense only He would have the perfect answers for us in these matters?

Have you considered the condition of women at the time of the revelation of the Quran over 1,400 years ago?

The verse of the chapter in question talks about restricting the number of wives to be only 2, or 3, or maximum 4, and even then with more limitations.

All of this comes at a time when there were no restrictions or limitations on the number of wives or the treatment of women in general. You see, women were in very bad shape back then. All around the world women were suffering at the hands of men. For instance, did you know:

· Men would bury their new-born baby girls in the desert sands – alive? This was out of shame for having something so low, instead of a son.

· Women were treated with horrible disgust.

· Men had no limit on the number of wives they could have.

· There were no laws protecting women and they had no rights at all.

· Even the Church had convened a council meeting to determine if a women even had a soul.

· The Church blamed “Eve”, and damned her and all women after her for tempting Adam to eat the forbidden fruit in the Garden of Eden. (Islam puts the blame on Adam for what he did and on Eve for what she did – and they repented and Allah forgave both of them)

· Women are blamed in the Old Testament of the Jews for the “original sin” and treated in disgust.

· A woman's monthly cycle was considered by the Bible to be a "curse from God" for her inequities.

· Her child bearing pains were also a 'punishment from God' for her bringing man down from heaven.

OK, now read the verse from Quran we have been discussing (4:3) very carefully about having more than one wife.

What does it say? And what do you understand from it?

Verse 19 forbids men from inheriting (or marrying) women against their will. Young girls and orphans no longer had to fear being taken as “wives” to satisfy the desires of some man.

Now, read verse 24 to learn how Islam forbid men to marry women that are already married.

Next, read from verse 34, the orders from God Almighty, concerning the role of men and the position of women in front of the Lord Above. The commandment in this verse orders men to take on the role of supporter, provider, protector and custodian to the women.

A woman has the difficult role of carrying the child and delivering it and then feeding it and raising it to become a true servant of Allah.

Obviously, men and women are not created the same. They of course, are equal in front of Almighty God, as regards their righteousness, good deeds and obedience. However, it is obvious men and women are not exactly the same as each other. Each one must fulfill their role as humans.

Now it is time to mention some of the basics of Islam - to help them grasp a better understanding of what Allah's deen is really all about . . .

As we said in the beginning - Islam is about rights. Allah Almighty has the Right to be worshipped alone without any partners as He is the One and only God there is. The prophets all have the right to be followed by the true believers. After Allah and His prophets, the one having the very most rights, according to Islam is the mother, and then the father. But children also have rights in Islam.

When a man dies his wealth is left to his family.

How could the court know who to give the wealth of a man, if he was one of several husbands to a woman?

How would a child know who his father was?

No society ever supported the concept of a woman being married to two or more men at the same time. Almost every society supported the concept of a man having more than one woman.

Islam came to set things straight.

Women were given rights.  Men were strictly ordered to treat their women with the very best of treatment.

First of all, the men had to divorce their wives, if they had more than four. So this was not an order to go out and get four wives.  It was an order to begin limitations.

And the first limitation was;  No more than four.

Second, consider the limitation of equal treatment for all of them. How could a man keep more than one wife unless he was exceedingly wealthy and/or exceedingly strong and virile?

Next, the limitation very clearly states; ".. but if you fear that you shall not be able to deal justly (with them) then only one ..."

Step by step, the men of Islam have come to be known today as the most monogamous of all men on earth. (we only have one wife)

Now ask them to really investigate for themselves:

Check for yourself and see. In the majority of all the Muslim homes on earth, a man gets married once, to one woman and then he stays married to her until the death of either himself or his wife.

It is strange isn't it, a society like America, that condones having sex without marriage, homosexuality, same sex marriages, sex without responsibility, children without fathers and divorces are more common place than the measles or chicken pox, would be so concerned about the way the Quran speaks against these things.

Islam demands that a couple be married, and the man actually work instead of the woman and the woman owns her own property without giving anything for the support of the house or the child, a children have the right to their own mother raising them instead of a baby sitter or day care, father must support his children, divorce is hated, marriage is sanctified.

This should stimulate the thinking process of any intelligent thinker. Let them have time to read the Quran, and see what comes to them. If they still have more questions, it may be that Allah is going to guide them through your efforts. So be patient and remember, it is only Allah who guides and we are only delivering the message, “Laa elaha illallah, Muhammadar Rasoolullah.” Let us know if we can help you in the future. We will be waiting to hear from you. May Allah Bless with His Guidance, amen.
>>Baca Selengkapnya:....